Merespon Masalah Secara Real Time
Dalam masa krisis dimana situasi bergulir dengan cepat, satu elemen yang sangat penting adalah respon yang real time. Real time di sini berarti tepat waktu dan tidak tertinggal oleh roda-roda perkembangan kejadian. Seorang pemimpin bisa membuat respon yang tepat, namun respon tersebut bisa tidak efektif jikalau tidak dilakukan secara real time.
Keterlambatan dalam merespon, yang biasanya datang dari sikap mengulur-ngulur waktu dapat berakibat fatal dalam situasi krisis—misalnya kasus penyanderaan, merebaknya virus berbahaya seperti SARS atau H5N1, pengejaran teroris, atau stock market crash. Karenanya, seorang pemimpin yang menjadi crisis leader harus selalu dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, serta sepadan dengan tuntutan policy response terhadap krisis tersebut.
Saya yakin bahwa anda pasti pernah melihat adegan di film-film Hollywood dimana seorang Presiden atau Perdana Menteri dibangunkan dari tidurnya pada tengah malam karena situasi darurat. Percayalah, da-lam realita sehari-hari hal tersebut hampir tidak pernah terjadi.
Kecuali malam itu, tanggal 19 Februari 2005. Saya mendapat telepon mengenai perkembangan penculikan dua Warga Negara Indonesia di Irak. Budianto dan Meutya Hafid, dua wartawan Metro TV, menghilang dan dikabarkan disandera oleh sekelompok orang bersenjata pada tanggal 19 Februari 2005. Mereka diculik di wilayah Ramadi, sekitar 150 kilometer dari Baghdad ketika sedang dalam perjalanan dari Amman, Jordania ke Baghdad, Irak.
Dari laporan intelijen yang diterima, prospeknya cukup mencemaskan. Sebelum penculikan dua wartawan Metro TV tersebut, telah terjadi sejumlah penculikan terhadap warga asing, diantaranya warga Italia Enzo Baldoni, warga Rusia Dmitry Chebotayev, dan lain-lain. Semuanya berakhir tragis: umumnya mereka dibunuh dengan cara yang keji dan bahkan direkam dan disiarkan di internet.
Modus operandi penculikan bermacam-macam, namun biasanya ada pola tertentu: setelah penculikan tidak ada kabar, sepi beberapa hari, kemudian akan ada beberapa pihak yang mengaku sebagai perantara; kemudian perlu dilakukan proses klarifikasi untuk menentukan perantara yang kredibel; kemudian menentukan apakah ada tuntutan politik atau sekedar hanya tuntutan uang; kemudian negosiasi, dan kemung-kinan akhir bisa happy ending dimana sandera dibebaskan atau tragic ending dimana sandera dibunuh.
Yang mempersulit penanganan masalah sandera ini adalah faktor tidak adanya orang kita di lapangan, kecuali satu atau dua orang care-taker di KBRI Baghdad yang mobilitas dan logistiknya terbatas. Kita juga tidak mempunyai banyak kontak di Irak maupun pemahaman intelijen di Irak, karena situasi keamanan yang sangat berbahaya. Hampir setiap hari, setiap minggu, selalu ada serangan bom bunuh diri yang dilakukan secara terencana, tidak pandang bulu, dan terus-menerus.
Malam itu juga, saya menelepon ajudan Presiden untuk disambungkan dengan SBY. Alhamdulillah, walaupun sudah larut malam, telepon tetap diangkat oleh Kolonel Didit. Pada saat itu sudah larut malam, yaitu pukul 01.00 WIB.
Dino: “Pak Didit, saya harus bicara dengan Bapak sekarang.”
Kolonel Didit: “Mengenai apa? Apakah sangat urgent?”
Dino: “Ya, sangat urgent. Saya harus bicara dengan Presiden sekarang karena berkaitan dengan penculikan wartawan Metro TV.”
Kolonel Didit: “Apa harus sekarang atau pagi-pagi sekali, se-telah subuh? Kegiatan Bapak kemarin, dari pagi sampai malam padat sekali. Pasti beliau sangat lelah.”
Dino: “Harus sekarang, karena ini berkaitan de-ngan ma-salah hidup dan mati... urusan nyawa orang. Tolong Pak Didit sambungkan saja dengan Bapak. Karena Presiden harus melakukan wawancara dengan media untuk menjelaskan bahwa wartawan Metro TV tersebut adalah Warga Negara Indonesia. Saya tanggung seluruh risiko. Ini benar-benar kepenting-an nasional yang urgent.”
Kolonel Didit: “Ok. Saya percaya kalau berkaitan dengan nyawa orang, pasti Bapak akan merespon. Kalau begitu Mas Dino, tolong siapkan wartawan media yang akan mewawancarai Bapak dan segera saya akan lapor kepada beliau. Setelah itu akan saya telepon Mas Dino.”
Dino: “Terima kasih.”
Pada pukul 01.15 WIB Kolonel Didit menelepon saya sambil berjalan menuju ke kamar Presiden, selanjutnya mengetuk pintu kamar Presiden, dan tidak lama kemudian Presiden keluar dan menanyakan: “Ada apa Didit?”
Kolonel Didit: “Selamat malam Bapak. Mohon izin Mas Dino mohon bicara melalui telepon dengan Bapak, karena ada hal yang sangat urgent.”
Pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul 01.25 WIB dan Kolonel Didit se-gera menyambungkan saya dengan Presiden.
Saya kemudian memberikan laporan situasi kepada Presiden SBY sekaligus analisa intelijen mengenai pola penculikan di Irak selama ini. Kesimpulannya: Hope for the best, but expect for the worst. Sebelum saya melanjutkan dengan opsi-opsi yang ada, Presiden sudah memotong saya.
SBY: “Bagaimana kalau saya segera membuat statement, yang intinya mencoba mengetuk hati para penculik untuk membebaskan mereka. Mudah-mudahan mereka mendengar. Rakyat Indonesia kan tidak terlibat dalam konflik Irak. Dan antara Bangsa Indonesia dan Bangsa Irak tidak pernah ada rasa permusuhan. Coba segera diatur, sekarang, di Istana Merdeka di ruang Credential.”
Tengah malam itu juga pukul 02.15 WIB, Associated Press dan Al-Jazeera merekam appeal dari Presiden SBY. Hadir juga malam itu Jubir Deplu, Dr. Marty Natalegawa.
Dalam pernyataannya, Presiden SBY menghimbau:
“Tadi pagi saya menerima laporan bahwa dua Warga Negara Indonesia yaitu Saudara Budianto dan Saudari Meutya Hafid, keduanya adalah wartawan profesional dinyatakan hilang ketika menjalankan tugas di Irak. Ke-mudian dalam perkembangannya dari pihak jajaran Departemen Luar Negeri Indonesia serta unsur-unsur pemerintah lainnya di luar negeri menyampaikan bahwa besar kemungkinan dua wartawan itu berada dalam penyanderaan di sebuah tempat di Irak.
Kami terus mencari tahu di mana yang bersangkutan dan sedang menjalani kegiatan apa, dan konfirmasi kembali saya dapatkan sekitar setengah jam yang lalu, bahwa kedua Warga Negara Indonesia itu dipastikan berada dalam penyanderaan di sebuah tempat di Irak.
Saya, Doktor Haji Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia menyampaikan bahwa ke-dua wartawan itu benar-benar sedang menjalankan tugas profesi-nya. Mereka sama sekali tidak melibatkan diri dalam masalah politik ataupun masalah kon-flik yang sekarang sedang terjadi di Irak. Sebelumnya, kedua wartawan itu juga meliput kegiatan kemanusiaan menyangkut Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia dan juga meliput bencana tsunami di Aceh juga dari sisi kemanusiaan, dan kali ini sedang meliput kegiatan masyarakat dan saudara-saudara kita yang ada di Irak, karena Bangsa Indonesia dan Negara Indonesia yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia tentu ingin mengetahui keadaan saudara-saudaranya yang ada di Irak.
Oleh karena itulah, saya sungguh berharap agar kedua orang yang tidak bersalah dan menjalankan tugas profesinya itu dapat dibebaskan, kemudian kembali dengan selamat ke Indonesia, bertemu dengan sanak keluarga dan saudara-saudaranya di tanah air. Saya sudah berkomunikasi dengan kedua keluarga wartawan itu, mereka sangat mencemaskan nasibnya, demikian juga kami, semua rakyat Indonesia. Oleh karena itu, sekali lagi saya mengetuk hati dan meminta agar kedua wartawan itu dapat dibebaskan dan kemudian dapat kembali ke Indonesia dengan selamat.
Tentunya, atas kemurahan hati dan jasa baik dari semua pihak, terutama bagi selamat dan bebasnya kembali kedua Warga Negara Indonesia itu, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan. Semoga Tuhan membalas amal bakti dan jasa baik mereka.
Sekian,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Setelah itu Presiden kembali ke kamar tidurnya, namun sempat membisikkan ke saya: “Bismillah saja Din, ja-ngan putus asa. Kita terus berusaha. Mudah-mudahan berhasil.”
Alhamdulillah, dalam waktu yang tidak terlalu lama Meutya dan Budianto dibebaskan oleh para penculik dalam keadaan selamat dan tanpa disakiti sedikit pun.
Antara statement Presiden malam itu dan pembeba-san dua wartawan Metro TV tersebut ada sejumlah inisiatif, antara lain statement dari pemuka agama di Indonesia, himbauan dari tokoh agama terkenal di Timur Tengah, upaya komunikasi dengan para penculik, pengiriman team Pemerintah Indonesia ke perbatasan Irak dan Jordania yang dipimpin oleh Triyono Wibowo (sekarang Dubes di Wina, Austria). Presiden juga menyambut baik inisiatif Surya Paloh, Pimpinan Metro TV, untuk ikut berupaya membebaskan ke dua karyawannya. Semuanya dilakukan dalam suasana kecemasan dan ketegang-an yang tidak henti-hentinya.
Mereka kini sudah bisa tidur dengan nyenyak. Dan Alhamdulillah, sejak malam itu saya tidak pernah lagi membangunkan Presiden Republik Indonesia di tengah malam.
Maaf anda belum bisa memberikan comment. Silakan Login Terlebih dahulu.

Indonesia
English
19 February 2005 , 10:00 Wib
1 Comment(s)


