Intro Energi Positif
Pada tanggal 2 Mei 2009, majalah TIME mengeluarkan edisi khusus berjudul ‘Time 100 2009,’ yang menampilkan 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia (the world’s most influential people). 100 tokoh dunia ini dipilih dari berbagai kategori: Leaders and Revolutio-naries; Builders and Titans; Artists and Entertainers; Heroes and Icons; Scientists and Thinkers. Dalam daftar yang prestisius ini, Presiden Susilo -Bambang Yudhoyono masuk dalam kategori ‘Leaders and Revolutionaries.’ Setahu saya, Presiden SBY adalah orang Indonesia pertama yang masuk dalam daftar ini.
Walaupun daftar ini tidak menganut sistem ranking, namun dalam website Time, dalam daftar 20 pemimpin dunia yang terpilih, Presiden SBY kebetulan masuk dalam urutan 9–angka favorit SBY! (nomor telepon aduan kantor Presiden adalah SMS 9949; ulang tahun SBY tanggal 9 bulan 9 tahun 49; nomor urut Partai Demokrat dalam pemilu 2009 adalah 31, jumlah total dari 9+9+4+9!). Nama pemimpin lain yang disebut dalam kategori ‘Leaders and Revolutionaries: Angela Merkel, Nicolas Sarkozy, Barack Obama, Edward Kennedy, Gordon Brown, Hillary Clinton, Paul Kagame, Wang Qishan, dan lain-lain.
Sebagaimana lazimnya, majalah Time memilih tokoh-tokoh terkenal untuk menulis artikel mengenai 100 tokoh terpilih–dalam hal ini, artikel mengenai Presiden SBY ditulis Anwar Ibrahim dari Malaysia. Segera setelah pengumuman tersebut, saya bersama Eddy Baskoro (putra bungsu SBY) ditugaskan Presiden SBY untuk berangkat ke New York guna mewakili beliau dalam acara Time Gala Dinner untuk menghormati 100 tokoh tersebut. Ke New York City untuk dijamu bersama para ikon dan selebriti dunia? Dengan berat hati namun ri-ngan kaki, instruksi Presiden terpaksa saya laksanakan.
Pada tanggal 5 Mei 2009, saya merasakan sensasi berjalan di karpet merah di Lincoln Center, di tengah sorotan ratusan fotografer dan paparazzi, yang nampaknya menunggu kesempat-an menjepret Oprah Winfrey, Brad Pitt, George Clooney, Kate Winslet atau Tiger Woods (mereka masuk dalam daftar 100). Tentunya sewaktu saya lewat di karpet merah, tidak ada paparazzi yang peduli–mereka tahu saya bukan selebriti karena melihat jas tuxedo saya yang kusut dan kebesaran, baru di sewa siang itu dari toko jas di Madison Avenue.
Time Gala Dinner 2009 yang saya hadiri bersama Mas Ibas ternyata sangat inspiratif. Michelle Obama membuka acara dengan suatu pidato menggugah mengenai pengabdian dan idealisme. Setelah itu, sejumlah tokoh Time 100 2009 berbicara singkat: dari pemenang Nobel ekonomi Paul Krugman, Evan Williams (pene-mu Twitter), perancang Stella McCartney, musisi John Legend, dan lain-lain. Namun pidato yang paling menakjubkan malam itu datang dari Somaly Mam, yang bercerita secara mengharukan mengenai perjuangannya melawan perdagangan wanita (sex slaves) di Kamboja—saya melihat hampir semua orang menangis mendengarnya, termasuk Michelle Obama.
Jujurnya, seumur hidup saya tidak pernah merasakan energi seperti malam itu. Malam itu, di tengah kerumunan berbagai individu yang berprestasi luar biasa, saya benar-benar merasa bahwa kita semua—apakah dari Pacitan atau Paris, apakah Presiden atau profesor atau pengusaha—sebenarnya mempunyai potensi untuk mengubah dunia, atau paling tidak mengubah dunia sekitar kita. Saya juga mengamati bahwa mereka semuanya sebenarnya adalah orang biasa. Yang membuat mereka spesial adalah kemampuan mengambil resiko, menaklukkan keterbatasan dan kelemahan mereka, dan menerobos din-ding-dinding kelaziman (mediocrity). Dan semuanya adalah ‘doers’: praktisi dan pelaku yang selalu mencari solusi. Semuanya tahu bagaimana mengkaitkan aspirasi dan inovasi dengan perspirasi. Dan, apa-pun kondisinya, tidak ada satupun dari mereka yang meratapi dan menyerah pada nasib.
Dari sinilah timbul gagasan menyusun buku ini: suatu kumpulan tulisan tokoh-tokoh yang memancarkan ENERGI POSITIF.
Tema ini dipilih karena saya melihat masih ada bahkan cukup ba-nyak saudara-saudara kita yang terus dililit oleh energi negatif dan budaya sinisme (culture of cynicism). Mindset mereka seakan terprogram melihat segala sesuatu dari sisi buruknya saja: yang berprestasi dicemooh, yang berhasil dijegal, yang seharusnya mudah dipersulit. Energi negatif membuat orang kalah sebelum bertanding, karena mereka menjadi malas mencari solusi dan meraih target. Lebih parah lagi, budaya sinisme membuat orang tidak percaya diri, hanya meratapi nasib dan dirundung self-doubt. Se-umur hidup, saya tidak pernah melihat orang yang sukses dengan mentalitas seperti ini. Saya yakin sekali salah satu inovasi terbesar nenek moyang kita, Candi Borobudur, yang kini menjadi salah satu keajaiban dunia, tidak mungkin dibangun oleh orang-orang yang berenergi negatif. Dan saya yakin tonggak-tonggak sejarah bangsa Indonesia—Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, revolusi kemerdekaan, Pancasila, Wawasan Nusantara, reformasi—semuanya diraih oleh manusia-manusia biasa yang mendobrak segala keterbatasan dengan energi positif. Karena itulah, saya suka geram melihat budaya sinisme ini menjangkiti sebagian generasi muda Indonesia. Kepada mereka, saya sering mengutip ucapan pemimpin Inggris Tony Blair: “You can’t lead your people if you keep knocking them down.”
Yang tidak dapat dipungkiri, dan yang saya rasakan malam itu di New York, profil Indonesia kini jauh berbeda. Bangsa kita tidak lagi dirundung oleh citra keterpurukan sebagaimana kita alami 10 tahun lalu. Di Asia Tenggara, kita bukan saja negara terluas dan terbesar namun juga negara dengan ekonomi terbesar dan sistem politik yang dianggap paling mapan, stabil dan dinamis. Indonesia kini kembali dipandang sebagai jangkar ASEAN.
Di komunitas negara-negara demokrasi, kita dihormati sebagai negara demokrasi ketiga terbesar. Di dunia Islam, kita disegani sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia; sebagai pelopor Islam moderat; dan sebagai bukti telak bahwa Islam, demokrasi dan modernitas dapat tumbuh bersama dengan harmonis.
Dalam dunia yang masih dihantui krisis pangan, kita telah kembali berhasil mencapai swasembada beras dan jagung. Dalam kondisi ekonomi dunia yang sedang resesi, Indonesia tetap mencatat pertumbuhan ekonomi positif, tertinggi di Asia, bahkan di dunia. Dalam krisis keuangan global, kita telah menjadi bagian dari solusi melalui keanggotaan dalam kelompok G–20. OECD bahkan telah mempunyai terminologi baru untuk merujuk pada fenomena ‘emerging economies’ dunia, yakni BRIICS—Brazil, Rusia, India, Indonesia, China, South Africa.
Dalam dunia yang masih terus diwarnai konflik-konflik berdarah, kita telah berhasil menciptakan perdamaian di Aceh dan Papua.
Dan walaupun kita ditimpa oleh serentetan bencana alam, terutama Tsunami dahsyat di tahun 2004, dunia justru mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam mengatasinya dan membangun kembali wilayah yang terkena musibah, terutama Aceh.
Pendeknya, dalam era SBY (2004–2009), kita semakin mapan baik di dalam negeri maupun dalam percaturan internasional. Karenanya, Indonesia kini menjadi sorotan dan tauladan bagi dunia.
Ingatlah: tanpa energi positif, semua ini tidak mungkin tercapai.
Ingat pulalah: yang membuat bangsa Indonesia dihormati dan disegani bukanlah retorika kita atau pidato lantang para pemimpin kita, namun bobot bangsa kita secara keseluruhan—prestasi, capaian ekonomi, stabilitas, prestasi, kelestarian budaya, perubahan positif dan konsistensi dalam memperjuangkan prinsip. Tanpa bobot ini, Indonesia dengan segala hiruk pikuknya hanya akan dianggap remeh dan entertaining oleh bangsa-bangsa lain.
Buku ini menampilkan tulisan seratusan tokoh dari berbagai kalangan (103 tokoh nasional dan internasional serta 8 artikel majalah internasional) mengenai Indonesia di era SBY: partai politik, pejabat Pemerintah, ekonom, veteran, bisnis, media, agama, akademisi, aktifis, artis dan lain-lain. Walaupun perspektif mereka berbeda-beda, namun saya mencatat ada beberapa kesamaan umum dalam opini mereka: laju perubahan yang konkret dalam 5 tahun ke belakang; rasa optimisme mengenai bangsa Indonesia baik hari ini dan ke depan; sikap percaya diri menghadapi tantangan ke depan; dan apresiasi terhadap sosok SBY, baik dari segi kinerja maupun watak.
Dalam daftar tokoh ini, saya juga sengaja menampilkan opini sejumlah tokoh internasional, untuk semakin meyakinkan bangsa Indonesia bahwa dunia luar sebenarnya juga penuh harapan dan good will pada kita. Di abad ke-21, bangsa Indonesia harus semakin jeli melihat pentas internasional sebagai lahan dan peluang, serta sebagai kesempatan emas untuk menduniakan Indonesia, apakah itu produk, budaya, komoditi, maupun ide kita. Saya sendiri sebenarnya tidak suka menggunakan kata ‘asing’ karena konotasinya orang Indonesia merasa ‘asing’ dengan dunia luar. Saya kini lebih suka menggunakan kata ‘luar negeri’ atau ‘internasional,’ ketimbang ‘asing.’
Dalam menyusun buku ini, saya didukung oleh tim yang solid: Iman Santosa, Trisari Dyah Paramita, Togi Pangaribuan, Teguh Sri Pambudi, Ivan Novianto dan Mirwan Suwarso. Saya juga sangat terbantu dengan masukan-masukan dari sahabat saya, Andi Arief. Kepada mereka semua yang bekerja dengan penuh dedikasi, saya ucapkan terima kasih, termasuk kepada istri saya Rosa, dan anak-anak saya Alexa, Keanu dan Chloe yang sempat menunggui saya sampai larut malam di kantor menyelesaikan buku ini. Tentunya, semua kesalahan dalam buku ini adalah tanggung jawab saya.
Buku ini berisi berbagai refleksi terhadap era SBY: suatu masa yang menurut saya adalah era terpenting dalam sejarah Indonesia modern—era dimana negara Indonesia tidak saja melanjutkan reformasi namun juga melakukan transformasi. Apakah era SBY akan terus berlanjut 5 tahun lagi, kita serahkan pada sejarah.
Selama ini, saya mengamati kita terbiasa membandingkan para pemim-pin dan calon pemimpin kita, dan paling sering dibandingkan de-ngan sosok Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Mungkin ke depan akan ada tren baru. Dalam 5 tahun terakhir, ‘SBY’ telah menjadi suatu fenomena politik dan diplomasi. SBY—dengan mengusung politik santun, politik bersih, politik cerdas—kini adalah sosok pemimpin yang teruji dan diakui dunia. SBY telah menciptakan tolak ukur sendiri bagi standar kepemimpinan nasional Indonesia. Karena itulah, saya yakin setelah era SBY berakhir suatu hari, kelak Presiden-Presiden Indonesia setelahnya akan dibandingkan dengan sosok Presiden SBY.
Selamat membaca!
Maaf anda belum bisa memberikan comment. Silakan Login Terlebih dahulu.

Indonesia
English
02 May 2009 , 10:00 Wib
3 Comment(s)


