« Back

Do the Right Thing

15 August 2007 , 10:10 Wib 0 Comment(s)
Bookmark and Share

Pada tanggal 15 Agustus 2007, Indonesia dikejutkan dengan suatu berita yang keji. Raisya, seorang gadis berumur 5 tahun, diculik oleh sekelompok orang ketika dalam perjalanan pulang bersama pengasuhnya dari TK Islam Al Ikhlas. Peristiwa itu terjadi 300 meter dari rumah Raisya di Jatiwaringin.

      Peristiwa penculikan Raisya langsung menjadi berita nasional. Seluruh media cetak dan elektronik, termasuk info-tainment, menyorot berita ini. Jutaan orang tua, termasuk saya dan istri, menjadi cemas akan keselamatan anaknya.

      Dalam beberapa hari sesudah penculikan, saya berkomunikasi intensif dengan Raisya Center, dengan ayah Raisya, Ali Said, dan dengan Ketua HIPMI Sandi Uno (Ali Said adalah eksekutif HIPMI). Pada saat itu, orang tua Raisya telah menerima SMS dari penculik yang meminta tebusan Rp 1 miliar, namun mereka sama sekali tidak habis pikir siapa yang tega melakukan penculikan keji ini.

      Saya menyampaikan kasus penculikan ini kepada Presiden SBY. Presiden SBY sendiri merasa sangat prihatin terha-dap peristiwa ini. SBY dan ibu Ani tidak habis membayangkan apa yang terjadi pada anak yang malang itu. Apakah anak itu dilukai penculik? Diikat? Kalau menangis, siapa yang menenangkannya? Kalau lapar dan haus, siapa yang memberi makan? Presiden dan Ibu Ani bisa membayangkan perasaan orang tua Raisya kehilangan anak satu-satunya, yang didapat dengan susah payah setelah cukup lama berumah tangga.

      Dalam konteks yang lebih luas, Presiden juga mengkhawatirkan trend penculikan yang semakin merebak. Dari laporan polisi, dalam bulan Juli–Agustus sudah ter-jadi 7 kasus penculikan dengan modus operandi yang berbeda. Kasus-kasus ini sangat meresahkan masyarakat, dan harus segera dihentikan. Raisya, yang menjadi masalah nasional, menjadi tolok ukur keberhasilan, sekaligus menciptakan deterrent factor bagi para penculik di masa mendatang.

      Setelah berdiskusi mengenai hal ini, SBY menyatakan: “Dino, saya akan buat statement mengenai Raisya nanti malam, segera atur. Sebelum itu, hubungkan saya dengan orang tuanya.”

      Malam itu, setelah menelepon orangtua Raisya, Presiden SBY didampingi Ibu Meuthia Hatta membuat doorstop statement di Istana Negara mengenai Raisya. SBY memohon agar para penculik segera mengembalikan Raisya ke pangkuan orang tuanya dalam keadaan selamat. Kalau ada masalah dengan orang tuanya, sebaiknya diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan Raisya.

      Presiden juga memberikan nomor telepon genggam Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutiah Hatta yang dapat dihubungi penculik. Pernyataan Presiden SBY segera disiarkan di berbagai televisi, radio dan media cetak. Dan Presiden tidak berhenti disana: beliau menghubungi Kapolri agar memprioritaskan kasus Raisya. Bottom line Presiden: Raisya harus segera kembali ke pangkuan keluarganya!

      Keesokan harinya, polisi berhasil meringkus penculik dan membebaskan Raisya di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sete-lah 9 hari diculik, Raisya akhirnya ditemukan.

      Kami di Istana tidak ada yang menyangka Raisya akan bebas secepat itu. Seluruh Indonesia menarik nafas lega karena Raisya dalam keadaan sehat, namun juga kita juga shock karena sebagian dari para penculik ternyata adalah anak-anak SMA.

      Hari itu juga, Raisya Center menyampaikan kepada saya permintaan agar Raisya dari Mapolda Metro Jaya segera dibawa ke Istana untuk dipertemukan dengan Presiden. Me-reka menyatakan ingin agar Raisya dapat mengucapkan terima-kasih secara langsung kepada Presiden atas bantuan dan perhatian beliau.

      Ketika permintaan ini saya sampaikan, Presiden SBY langsung menjawab: “Tidak.”

      Dino: “Siap, Pak. Boleh saya tahu alasannya?”

      Presiden SBY: “Dino, yang paling penting adalah si Raisya itu. Apakah kondisi fisik dan batinnya memungkinkan untuk dibawa ke Istana? Kan tidak. Dia pasti masih trauma. Yang paling penting, Raisya sekarang harus bersama orang tuanya, harus dipeluk ayah ibunya. Dia tidak boleh diparade. Anak itu harus dilindungi dari sirkus media. Yang terpenting dia harus segera kembali dalam lingkungan yang normal.”

      Dino: “Siap, Pak. Ada yang lain?”

      Presiden SBY: “Sampaikan salam saya kepada keluarga Raisya. Sampaikan saya gembira dapat ikut membantu. Sampaikan waktunya belum pas untuk Raisya dibawa ketemu saya.”

      Pesan ini saya teruskan kepada Ali Said, yang ternyata juga berpandangan sama. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar dari Ali Said bahwa Raisya telah kembali riang, dan bahkan telah membuat lukisan untuk Presiden SBY.

      Dalam hati saya berpikir: memang, publisitas bukanlah segalanya. Sometimes you just have to do the right thing.

Comments on "Do the Right Thing" :

Maaf anda belum bisa memberikan comment. Silakan Login Terlebih dahulu.
Comment tidak ada